Kamis, 19 November 2015

Saya Masih Menonton Televisi




Topik tentang televisi dan acara televisi sangat hangat ya sekarang ini. Rasa-rasanya hampir semua teman dekat saya  menjadi generasi yang tidak punya TV. Banyak sekali tulisan tentang “kenapa sih tidak perlu televisi?”, “untungnya hidup tanpa TV”, dll. Menarik sih buat saya dan sangat masuk akal kenapa kita tidak perlu TV. Tapi Hey, ternyata saya masih baru menonton TV XD.

Padahal ya saya sama sekali tidak punya kebiasaan menonton TV. Semasa kecil, rumah kami di area perkebunan dimana listrik masih diatur penggunaannya oleh Perusahaan, Stasiun televisi yang ada hanya satu atau dua saja dan lagian disana lebih seru main di luar. Jadi saya benar-benar tidak tertarik nonton TV. Ketika SMA, saya pindah ke Bandung. Kami tidak punya TV. Begitupun ketika saya kost di Jatinangor, tidak pernah terpikir untuk beli TV :D. Jadi, setelah belasan tahun saya baru punya TV lagi sekarang? Setelah di Jakarta? IYA! Hahahaha

Buat saya sih TV itu media saja. Balik lagi ke kebutuhan sih.

Dulu waktu masih kuliah, saya menggunakan media seperti internet, radio, majalah ataupun ngobrol dengan teman. Hal itu paling efektif buat saya untuk mengakomodir rasa ingin kekinian saya. Ketika masih menjadi mahasiswi, karena Sumber Daya yang saya miliki saat itu adalah waktu, saya punya waktu sangat banyak untuk browsing, ngobrol dengan teman, baca majalah, dengerin radio,  sehingga saya sudah bisa memilih apa yang harus saya konsumsi. Misal nih, setelah saya browsing dan ngobrol dengan teman ternyata saat ini yang lagi happening dan layak disimak adalah reality show Masterchef USA, ya saya secara langsung segera mencari, download dan nonton. Sesimple itu. Rasanya nonton TV itu menjadi tidak kekinian. Semua yang ada di TV terlihat basi dibanding media yang lain. Even itu TV Kabel.

Nah, Kenapa saya sekarang menonton TV?

Karena media ini lah yang paling efektif buat saya sekarang. Semenjak kerja, waktu saya terbatas. Saya tidak kerja di perusahaan media sehingga tidak ada keleluasaan dalam melakukan pencarian info hiburan :p. Sudah jarang berinteraksi juga dengan teman demi mendapatkan “racun” yang baik. Nah TV mampu menjadi media hiburan saya ketika kondisi sumber daya waktunya tidak sebanyak seperti di masa kuliah. Apalagi TV Kabel yang saya konsumsi menyediakan layanan “bisa nonton acara sampai 7 hari yang lalu”. (Eh ini TV kabelnya kalau mau endorse saya, saya mau banget lhooo. Hwakakakkak). Jadi sesimple ini sih, saya pulang telat ke rumah pun gak takut ketinggalan acara, karena masih bisa nonton ulang. Trus saya bisa coba-coba nonton acara atau film, kalau gak suka ya tinggal stop trus cari acara lain. Hehe

Ketika saya berbicara tentang hal ini, seorang teman dekat bertanya “bagaimana quality time kamu sama suami kamu? Gak terganggu kah dengan TV?”. Ah kalau itu sih panjang ceritanya. Bisa jadi 1 tulisan lagi XD.

-Irna-

Minggu, 15 November 2015

Sosial Media


Berawal dari kejadian hari ini mengenai sosmed. Saya tergugah betapa banyaknya orang-orang yang menganggap penting dengan apa-apa yang diutarakan oleh orang lain di sosmed. Sekali lagi di Sosmed. Alkisah, Sekelompok orang merasa tersinggung dengan sekelompok orang lainnya yang mengutarakan sesuatu di sosmednya (nah lho, pusing gak bacanya :p). Saya mendengar cerita tersebut baik-baik dan berusaha mencerna apa yang terjadi dengan kelompok A yang sedemikian pedulinya dengan sosmed dan apa yang dipikiran kelompok B yang sedemikian isengnya. Saya tidak memberi komentar apapun, namun cukup jadi insight bagi saya kejadian ini.  


Hasilnya adalah saya jadi bolak balik melihat sosmed saya di masa lampau. Scroll FB, Scroll Twitter dll dan cukup membuat  tertawa, betapa reaktif sekali saya saat itu. Ada kejadian apa distatusin, dijadiin tulisan. Ada yang traktir buru-buru bikin status trus mention orangnya. How I Met Your Mother akan keluar season baru buru-buru distatusin dan tag orang-orang yang suka juga, di reply banyak orang dan jadi obrolan panjang serasa menjadi makhluk paling popular XD. 

Dan itu tidak terjadi saat ini, saya masih aktif di sosmed, tapi cuma sebagai silent reader aja. Scroll, baca, dan sekedar menikmati. Kalaupun mau komen dan bahas paling saya bahas dengan Suami, itu pun bukan di sosmed.. Ah betapa manusia itu cepat berubah, even itu di dunia maya. XD


Kayaknya udah lama banget saya jadi pengguna sosmed. Tidak bisa dipungkiri kalau sosmed sangat berpengaruh di kehidupan saya. Dari mulai kepo sampai dapat ilmu baru. Fungsi sosmed ini berganti seiring dengan berubahnya lingkungan saya, status dan bahkan hobi


Ketika kuliah, gak mau dong dibilang ketinggalan, segala macam sosmed dicoba. 1 kejadian bisa di update di semua sosmed. Popularitas di FB diukur dari semakin banyak Tag Photo of You dan seringnya upload foto via ponsel. Folder mobile upload seolah menunjukan bahwa ponselnya blackberry etc. XD. Kemanapun pergi check in forsquare dan update juga di twitter, tidak lupa temen perginya di mention, kalau reply via Retweet biar orang ngeliat chit chat saya dengan teman-teman saya. Oh How long.. Its super Ridiculous! XD


Fungsi sosmed berubah ketika saya kerja, bertambah usia, punya hobi baru dan teman yang dekat sudah berpencar dengan kehidupan barunya juga. 70% sosmed digunakan untuk mencari berita biar tetap kekinian dan 20% jadi ajang reuni dengan teman dan sisanya untuk belanja dan jualan online. Cari inspirasi, cari hobi baru. Saya ikut kelas self healing karena banyak belajar di sosmed. Ketemu guru Yoga saya yang sekarang karena sosmed. Gaya hidup sekarang, kemampuan masak, pilihan buku, film, musik, restoran, destinasi liburan semua tidak lepas dari sosmed, seolah-olah sosmed ini jadi penasihat saya.. Ingin makan serabi oncom, cek di sosmed. Mau beli buku baru, cek sosmed. Yang menarik, setelah kerja interaksi dengan teman-teman di sosmed sudah sedemikian jarangnya, sehingga ketika kami bertemu, tidak cukup untuk slumber party semalam doang. Terlalu banyak cerita yang harus di update tak henti-henti XD. 



Saat ini jenis sosmed semakin banyak, namun saya memilih yang bisa mengakomodir kebutuhan saya saat ini saja. Kalau kebutuhannya masih seperti saat kuliah dulu, tidak akan tanggung-tanggung saya instal Path, periscope dll and make circle. Tapi dipikir-pikir kebutuhan saya sudah tidak disana. Rasanya sudah kenyang di masa muda seperti itu Iya saya sudah tua Make a peer and got popularity.


Lain lagi dengan suami saya. Lingkungannya saat ini ya 80% Sosmed. Hwahaha.. Dia penganut Working from home. Semuanya virtual. Virtual friends, virtual emotion tapi untungnya gak virtual money ya Beb (Eh entah ya, jangan-jangan virtual money juga XD).


But anyway sosmed itu ranah pribadi sih buat saya dan ya mungkin seharusnya seperti itu buat semua orang. Rata-rata orang menggunakan untuk mengakomodir kebutuhan emosionalnya. Begitupun saya. Namun, bijaklah. Masa sama sosmed aja harus baper?   Update status buat siapa yang emosi siapa yang kesinggung siapa. Mau dibilang generasi baper? :p. Masih banyak kegiatan lain yang perlu diperhatikan lebih dibanding sibuk menebak-nebak status orang itu buat siapa dan tersinggung. Duh rugi amat. Ingin sekali rasanya bilang “primitif banget kalau masih ada yang baper karena sosmed”. Tapi kan, hidup itu pilihan. Tsahhh.. Jadi ya silakan dipilih. But, Look! Ibaratnya orang udah sibuk belajar financial planning, investasi, bikin gojek (popular kan?) dan hal berguna lainnya, lo masih aja berantemin pilihan presiden.  -End-



-Irna-